Ambulans, Trauma, dan Pilihan Belok Kiri


K9Canda - Begitu ngobrol-ngobrol sama Mas Hadi soal ambulans kemarin, tanpa sadar otakku langsung flashback ke masa lalu. Bukan ke masa kejayaan, tapi ke masa di mana aku hampir menjadi pemeran figuran di film horor ambulans.

Ceritanya, aku kenal sama sosok putri, singkatnya "S" ketika dia kelas 3 SMA St. Maria yang kemudian hijrah ke Universitas Widya Mandala. Manado asli, baik hati, ramah, senyumnya bikin lupa waktu.

Tapi jangan salah, di balik senyum manis itu, dia dan kakaknya memegang kendali 6 unit ambulans di Surabaya. Ya, enam! Sementara papa-mamanya di Jakarta juga bergelut di usaha yang sama—artinya, satu keluarga memang terisi penuh sama sirine dan lampu merah.

Awalnya aku mengenalnya sebagai "gadis pengusaha ambulans" yang biasa. Ada yang aneh, sampai suatu siang aku mampir ke rumahnya. Biasanya selalu malam, jadi tidak pernah melihat suasana sekitar.

Begitu siang itu datang, garasi posisi pojok, garasi di belakang dengan pintu sendiri dari samping. Tiba-tiba—plong!—dua ambulans masuk jalan samping rumahnya.

Dengan polosnya aku bertanya, "Kok ada ambulans masuk ke situ, Sher? Lagi ada yang sakit?"

Dia jawab santai sambil nyeruput es teh, "Ya itu usaha aku dan kakak, Mas. Memang dari situ operasionalnya."

lho? Selama ini yang kuanggap garasi mobil pribadi, ternyata markas pasukan tempur kesehatan.

DIMINTAI ANTAR
Sampai suatu malam, "S" meminta bantuan ke belakang rumah mau ngeluarin mobil. Katanya mau ke TP (Tunjungan Plaza). 

Saya pikir mobilnya sama dengan umumnya. Sementara aku kesana pakai JipOpenCup (hanya dipakai malam hari), yang tidak mungkin dipakai bertiga (kursi hanya 2).

Eh, sampai di garasi, berjajar rapi 6 ambulans. Dan mobil yang dia maksud? Ya, salah satu ambulans itu!

Dag Dig Dug!
 Jantung utamaku langsung Breakdance. Aku batalkan niat ikut ke TP bertiga. Meski dipaksa-paksa, aku tetap kekeuh nolak.

Kenapa? Karena logikaku ngenes: aku lelaki, pulang malam, pasti dimintai tolong masukin ambulans ke garasi. 

Kalau masukin motor aja kadang masih serempet, apalagi ambulans sepanjang itu? Ditambah lagi...siapa yang tahu di dalamnya ada "penumpang" yang nggak kelihatan?

D rumahnya memang ada anjing Herder. Tapi, bisa dirumah. Tidak ikut menemani masuk garasi.

Maka aku pun memainkan jurus andalan anak 90-an: pager radio berbunyi. "Waduh, "S", kantor Surabaya Post manggil. Ada berita panas. Junior kayak aku wajib lapor!" 

Alhamdulillah, pamit lancar tanpa kondisi buruk.

HALUSINASI
Sampai di rumah, pikiran dan halusinasi bersatu menjadi film horor dadakan.

Apalagi dulu pernah suatu malam aku melihat lampu dalam ambulans menyala sendiri. Sherly bilang itu biasa—tanda besok ada yang sewa ambulans.

“Biasa aja, Mas,” katanya. Sementara aku dalam hati: Biasa? BISA?! Lampunya nyala sendiri kok biasa?!

Sejak saat itu, setiap ada rencana ke rumah "S" malam hari, selalu kutunda. Apalagi lingkungan rumahnya suuuueeepi, bisa mendengar suara jangkrik bersaing sama detak jantungku sendiri.

Akhirnya, setelah melalui pertimbangan panjang—plus konsultasi sama hati kecil, sama kucing tetangga, sama mimpi-mimpi aneh—aku membuat keputusan besar: 
Terus berteman dengan Sherly yang baik hati itu, atau belok kiri?

Dan penjelasannya... (drum roll)... Aku pilih belok kiri! Bukan karena dia jahat, tapi karena aku belum siap punya "pasangan" yang setiap malam bisa bawa pulang kerja dalam bentuk ambulans. 

Terlalu banyak sirine dalam hidupku, padahal aku hanya butuh ketenangan dan mungkin ... taksi. 😅

MORAL CERITA
Teman itu penting, tapi nyali dan logika juga. Dan jika kamu naksir pengusaha ambulans, pastikan dulu kamu siap dengan lampu-lampu yang suka menyala sendiri.

Karena cinta itu buta, tapi ambulans itu punya lampu! 🚨

- oleh : Priono Subardan, dalam pengalaman pribadi.


Ambulans, Trauma, dan Pilihan Belok Kiri

K9Canda - Begitu ngobrol-ngobrol sama Mas Hadi soal ambulans kemarin, tanpa sadar otakku langsung flashback ke masa lalu. Bukan ke masa ke...